Rabu, 06 November 2013

Biarkan Aku Mengenangmu

Biarkan Aku Mengenangmu
0zZy Al bayaT

Cinta..
Biarkan aku mengenangmu..
Menyimpan namamu sebgai penggalan cerita hidupku
Di dalam lubuk hati..
Di dalam sanubari..

Cinta..
Kau begitu sempurna untukku..
Meski aku tak memilikimu..

Tapi sungguh..
Aku sangatlah bahagia karena dalam hatiku pernah terukir nama indahmu..

Cinta..
Biarkan aku tetap mengenangmu..
Mengenang warna-warna yang kau lukis di setiap hariku..
Karena kini.. aku hanya bisa merindukanmu untuk selamanya

Cinta..
Izinkan aku menutup lubang rinduku dengan senyuman manis di saat kita bertemu
Meski kusadari..
Aku telah berdosa jika tanamkan buah rindu untukmu

Cinta..
Begitu indahnya dirimu
Hingga aku tak mampu untuk sekedar menghapus semua bayang-bayang tentangmu..

Cinta..

Barakallahu lakuma....


SELAMAT MENULIS DI LEMBARAN BARU
Selasa 08/05/2012 ... 03:21:46 wis

Senin, 04 November 2013

Mengejar Mimpi (1)

Halo Sobat blogger. Lama nggak ngeposting (karena emang nggak nulis) buatku rindu. Kangen ngeblog ini saya rasa ada hubungannya dengan mimpiku. Mimpi menjadi seorang penulis meski tak harus sejalan dengan kaidah para penulis. Mimpi sebagai penulis lepas, penulis merdeka yang tanpa intervensi.
Ngomongin soal mimpi, Sobat   setuju dengan bahwa (1) sebuah impian itu harus kita wujudkan dengan segenap kemampuan kita atau (2) kita cukup menunggu saat Tuhan membuka jalan kita untuk mewujudkan impian itu baru kita wujudkan?
Saya pribadi (saat ini) lebih memilih yang ke dua, mewujudkan impian setelah Tuhan membukakan jalan. Dengan syarat sebelum Tuhan membukakan jalan untuk wujudkan impian itu, kita tak pernah berfikir untuk membatalkan dan melakukan hal yang menghalangi terwujudnya mimpi itu.
Saya tidak sedang bermaksud menolak pandangan pertama bahwa sebuah impian harus segera diusahakan dengan segenap kemampuan, tapi ingin mengatakan ketika mimpi gak diusahakan dari awal sekalipun, ia masih tergolong impian yang bisa terwujud. Bahkan dengan cara yang lebih arif (menurut kaca saya tentunya).
Dalam arti saat Sobat  bermimpi untuk berhaji sedang penghasilan pas-pasan, menurut saya, Sobat  tak perlu repot-repot menabung uang recehan. Kalau pun Sobat  sisihkan juga tak harus Sobat  paksa-paksain diri untuk tidak menggunakannya untuk kebutuhan lain. Coba Sobat  bayangin, ketika dalam sehari cuma bisa menyisihkan uang Rp. 1.000,- sampai kapan uang itu akan terkumpul dan cukup untuk pergi haji? Belum lagi menghitung inflasi yang tak bisa ditebak.
Walhasil menabung Rp. 1.000,- tiap hari untuk mewujudkan mimpi pergi haji adalah salah satu caranya. Tapi cara lama, jurus mabok, tanpa perhitungan yang matang. Kok bisa??? Lalu cara seperti apa yang lebih bagus selain menabung?
Ya iyalah, sebab apapun yang kita rencanakan, terwujud dan tidaknya itu berada di kekuasaan Tuhan. Ana turid anta turid wallahu yaf’alu ma yurid. Kita hanya bisa berencana Tuhan jualah yang menentukannya. Oleh karenanya tak berlebihan kiranya jika cara menabung uang Rp. 1000,- perhari itu saya anggap sebagai jurus mabuk.
Lalu apa tak boleh menabung? Ya jelas bukan itu maksud saya. Silahkan Sobat  tabung uang itu misalnya, namun jika ada keperluan lain yang penting jangan ragu untuk mengeluarkannya tanpa Sobat  merasa kecil hati, tak dapat menjalankan rukun islam ke lima itu. Toh telah banyak yang menceritakan bahwa ada seorang yang hendak berangkat berhaji di tengah perjalanan ia batalkan namun malah hajinya di terima oleh Yang Maha Kuasa sebab uang yang akan ia gunakan berhaji disedekahkan.
Dan siapa tahu saat Sobat  bersedekah sebagai gantinya rezeki Sobat  lebih lancar dan dengan ringannya Sobat  kumpulkan rezeki-rezeki selanjutnya untuk pergi berhaji. Sangat mungkin bukan? Sangat-sangat mungkin. Sebab pahala orang yang bersedekan dilipatkan sepuluh kali lipat.
So... kembali ke soal mimpi. Yang terpenting saat Sobat  punya impian itu adalah keyakinan akan wujudnya mimpi itu. Tak usah memaksakan kehendak dengan meng-eksploitasi diri habis-habisan. Dan saat Tuhan telah membukakan jalannya jangan berpaling darinya.
Di tulisan selanjutnya insya Allah pembahasan ini saya lanjutkan. Selamat membaca Sobat. Selamat bermimpi setinggi-tingginya. Salam Belajar Urip


Senin, 11 Februari 2013

Undang-undang Rumah Tangga


(Kuharap tulisan ini tak ditertawakan, tapi dibaca)
Sebagai calon kepala keluarga, saya ingin menyiapkan perundang-undangan yang terlaku dalam lingkup keluargaku. (Anda boleh berkomentar, menambah atau mengurangi)

Muqaddimah (Pembukaan)
Menyadari bahwa berdirinya rumah tangga tak akan harmonis tanpa saling memahami antar anggota keluarga, bahwa untuk memahami satu sama lain sulit diterjemahkan dalam era dewasa ini, bahwa rumah tangga tak ubahnya sebuah organisasi yang membutuhkan pemimpin, bahwa kepemimpinan tak solid tanpa perundang-undangan yang jelas, maka disusunlah Undang-undang Rumah Tangga sebagai berikut:

Minggu, 27 Januari 2013

Belajar Nulis


Ada seorang temen yang termotivasi untuk menulis bilang, "Aku ternyata belum siap (untuk) menjadi seorang penulis. Aku masih harus banyak membaca." sedikikit mengomentari saya katakan, "Iya, membaca itu perlu (bahkan kewajiban apalagi sebagai seorang penulis). Tapi membaca saja tidak cukup (kurang afdol) kalau tidak dibarengi dengan menulis."
Teringat gaya pembelajaran yang ada di Lirboyo, (Pondok Pesantren Lirboyo Kediri) salah satu metode pembelajaran santri yang

Rabu, 31 Oktober 2012

Menyoal Agen Perubahan



Beberapa waktu lalu M. Nuh, Mendikbud, menggulirkan wacana tentang 2045 mendatang sebagai golden year lewat pendidikan yang digagasnya saat ini. Walau realitanya pendidikan dan segala problematikannya tak kunjung usai namun tak ada salahnya kita sebagai anak bangsa ikut mengamini serta mendukung.

Esensi Nikmat Tuhan


Ternyata esensi nikmat tak hanya sekedar bentuk, tapi lebih kepada rasa.
Saat acara Harlah Al Mahrusiah yang ke sepuluh kebetulan saya ikut menghadirinya. Meskipun dalam keadaan perut yang sudah meminta jatah (lapar). Maklum sejak pagi baru sekali kemasukan Nasi dan biasanya sebelum jam segituan (9 malam) perutku sudah terisi yang kedua kalinya. Tapi ya bukan berarti seperti anak kecil yang hanya telat makan sebentar saja harus mengeluh atau meninggalkan tempat acara begitu saja. Memang sudah menjadi komitment awal kedatanganku yang sebenarnya sudah telat, “harus mendatangi acara itu meski sedang lapar.”

Belajar dari Penambal Ban


Pikiranku beberapa hari ini penuh dengan kekesalan dan entah apa saja. Kekesalan pada diri sendiri. Merasa tertegur, merasa bersalah, dan perasaan kalut semacamnya.
Penyebabnya bisa dibilang sepele. Entah apa mulanya dan apa yang sebenarnya lagi dibahas–aku lupa-. Waktu mengajar di kelas Ustadku mengatakan, “Nahwu koyok kompo, fikeh ban jero, tasawuf ban jobone. Dadi nek cekelani gur Nahwu wae, yo wes podho wae nek nyang endi-endi gowoni kompo tok. Ban-e renek.

Selasa, 31 Januari 2012

Ternyata Aku Tak Ridlo


(Rumah Tua Eyangku II)

Baru saja kulangkahkan kembali kakiku menapaki bancik-bancik ini. Bancik yang selalu setia menemani dan menjadi pijakan santri-santri kala mereka berangkat sekolah atau mengaji. Tapi pikiran semrawut itu telah kembali memenuhi jaringan otakku. Bak virus ganas yang mengobrak-abrik sistem komputer yang tak di-DeepFreeze. Mengurai benang kusut dengan cara membuangnya bukanlah tindakan bijak sama sekali. Segala permasalahan meskinya aku hadapi, bukan aku hindari. “Mana kekuatan bancik yang kamu jadikan sebagai pijakanmu? Atau mungkin mata hatimu telah buta, sehingga tak tahu mana yang bancik dan mana yang ternyata kayu rapuh?” pikiranku kacau.
Aku kadang malu dengan diriku sendiri, apalagi pada orang yang tanpa mereka sadari telah aku bujuk untuk membagi kisahnya dengan sok bijak dalam menghadapi segala masalah. Dan meski aku suka mendengarkan teman-temanku curhat, nyatanya aku sendiri tak pernah berbagi dengan mereka. Hanya lewat tulisan ini aku berkisah. Hanya lewat tulisan ini aku berkeluh kesah. Karena aku yakin kau tak mengenalku. Aku yakin tulisan ini tak akan menimbulkan simpatimu untuk peduli kepadaku. Karena kau tak mengenalku. Bahkan kau bukan orang yang hidup sezaman denganku. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa gunanya aku harus pulang, jika setalah kembali pun aku tak mendapat jalan keluarnya?

Jumat, 13 Januari 2012

Rumah Tua Eyangku


Tak tahu harus kumulai dari mana aku ceritakan kisah piluku. Sebelum akhirnya aku putuskan untuk mencoret-coret lembaran lusuh ini, keadaanku sungguh memprihatinkan. Bukan karena sakit atau tak makan selama seminggu. Yang memprihatinkan sesungguhnya bukan aku dan ragaku, melainkan jiwa dan hati yang ada di dalamnya. Semua orang di dekatku mengira aku masih seperti biasa. Tapi tidak batinku sendiri. Aku sungguh tersiksa dengan keadaan ini. Kuharap dengan menuliskannya sedikit terobati.
Diantara jutaan bahkan trilyunan makhluk ciptaan Tuhan di dunia ini, hanya kau yang tahu. Hanya orang yang menemukan tulisan lusuh ini dan mau membacanya. Kaulah orang sepesial bagiku. Terimakasih karena kau mau mendengarkan keluh kesahku. Meski aku takkan tahu kapan kau akan menemukannya, dan apakah lembaran ini masih utuh atau tidak, namun aku cukup bahagia kau mau membacanya. Sekali lagi terimakasih.

***

Esensi Nikmat Tuhan


Ternyata esensi nikmat tak hanya sekedar bentuk, tapi lebih kepada rasa.

Saat acara Harlah Al Mahrusiah yang ke sepuluh kebetulan saya ikut menghadirinya. Meskipun dalam keadaan perut yang sudah meminta jatah (lapar). Maklum sejak pagi baru sekali kemasukan Nasi dan biasanya sebelum jam segituan (9 malam) perutku sudah terisi yang kedua kalinya. Tapi ya bukan berarti seperti anak kecil yang hanya telat makan sebentar saja harus mengeluh atau meninggalkan tempat acara begitu saja. Memang sudah menjadi komitment awal kedatanganku yang sebenarnya sudah telat, “harus mendatangi acara itu meski sedang lapar.”

Senin, 23 Mei 2011

Misteri Kecewa

Liburan tahun kemarin, seorang teman curhat kepada saya. Entah, karena menganggap saya memang dapat memberi pencerahan atau sekedar untuk melepas penat dari pada ditanggung sendiri. Maklum, saya memang sering memancing teman-teman untuk sharing. Harapannya, saya dapat memetik hikmah dari segala permasalah yang saya dengar itu.

Biasanya begitu tahu ada seorang teman yang kelihatannya sedang menghadapi masalah saya katakan padanya, “Ya kalau lagi punya masalah cerita dong. Meski nantinya saya nggak dapat ngasih solusi, tapi ‘kan paling nggak, dengan bercerita sampean bisa meletakkan sebentar beban sampean untuk kemudian sampean pikul lagi. Artinya ada waktu istirahat untuk menanggung beban masalah itu lagi.”

Selasa, 08 Februari 2011

Dimanakah Kebahagiaan Itu?





Suatu hari ada seorang teman bertanya, "Untuk apa kita hidup?" Kebetulan bukan saya yang ditanya. Karena hanya ada berapa orang di tempat itu, (sedikit, tidak terlalu banyak) akhirnya saya mendapat giliran juga untuk menjawabnya.
Sebelum saya menjawab pertanyaan itu, saya lebih dulu memilih untuk  mempertanyakan kembali pertanyaan itu; "Untuk apa kita hidup? Atau apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini?"
Dia ternyata lebih memilih untuk menanyakan keduanya. Mungkin ingin tahu yang lebih jelasnya; untuk apa kita hidup dan apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini?
Entah pertanyaan itu apakah benar-benar ingin dia tanyakan atau hanya sekedar iseng, saya sendiri tidak tahu. Yang jelas saya tergugah untuk menjawab pertanyaan itu, meski itu timbul dari orang yang umurnya lebih tua dari saya.