Senin, 11 Februari 2013

Undang-undang Rumah Tangga


(Kuharap tulisan ini tak ditertawakan, tapi dibaca)
Sebagai calon kepala keluarga, saya ingin menyiapkan perundang-undangan yang terlaku dalam lingkup keluargaku. (Anda boleh berkomentar, menambah atau mengurangi)

Muqaddimah (Pembukaan)
Menyadari bahwa berdirinya rumah tangga tak akan harmonis tanpa saling memahami antar anggota keluarga, bahwa untuk memahami satu sama lain sulit diterjemahkan dalam era dewasa ini, bahwa rumah tangga tak ubahnya sebuah organisasi yang membutuhkan pemimpin, bahwa kepemimpinan tak solid tanpa perundang-undangan yang jelas, maka disusunlah Undang-undang Rumah Tangga sebagai berikut:

Minggu, 27 Januari 2013

Belajar Nulis


Ada seorang temen yang termotivasi untuk menulis bilang, "Aku ternyata belum siap (untuk) menjadi seorang penulis. Aku masih harus banyak membaca." sedikikit mengomentari saya katakan, "Iya, membaca itu perlu (bahkan kewajiban apalagi sebagai seorang penulis). Tapi membaca saja tidak cukup (kurang afdol) kalau tidak dibarengi dengan menulis."
Teringat gaya pembelajaran yang ada di Lirboyo, (Pondok Pesantren Lirboyo Kediri) salah satu metode pembelajaran santri yang

Rabu, 31 Oktober 2012

Menyoal Agen Perubahan



Beberapa waktu lalu M. Nuh, Mendikbud, menggulirkan wacana tentang 2045 mendatang sebagai golden year lewat pendidikan yang digagasnya saat ini. Walau realitanya pendidikan dan segala problematikannya tak kunjung usai namun tak ada salahnya kita sebagai anak bangsa ikut mengamini serta mendukung.

Esensi Nikmat Tuhan


Ternyata esensi nikmat tak hanya sekedar bentuk, tapi lebih kepada rasa.
Saat acara Harlah Al Mahrusiah yang ke sepuluh kebetulan saya ikut menghadirinya. Meskipun dalam keadaan perut yang sudah meminta jatah (lapar). Maklum sejak pagi baru sekali kemasukan Nasi dan biasanya sebelum jam segituan (9 malam) perutku sudah terisi yang kedua kalinya. Tapi ya bukan berarti seperti anak kecil yang hanya telat makan sebentar saja harus mengeluh atau meninggalkan tempat acara begitu saja. Memang sudah menjadi komitment awal kedatanganku yang sebenarnya sudah telat, “harus mendatangi acara itu meski sedang lapar.”

Belajar dari Penambal Ban


Pikiranku beberapa hari ini penuh dengan kekesalan dan entah apa saja. Kekesalan pada diri sendiri. Merasa tertegur, merasa bersalah, dan perasaan kalut semacamnya.
Penyebabnya bisa dibilang sepele. Entah apa mulanya dan apa yang sebenarnya lagi dibahas–aku lupa-. Waktu mengajar di kelas Ustadku mengatakan, “Nahwu koyok kompo, fikeh ban jero, tasawuf ban jobone. Dadi nek cekelani gur Nahwu wae, yo wes podho wae nek nyang endi-endi gowoni kompo tok. Ban-e renek.