Minggu, 27 Januari 2013
Rabu, 31 Oktober 2012
Menyoal Agen Perubahan
Beberapa
waktu lalu M. Nuh, Mendikbud, menggulirkan wacana tentang 2045 mendatang
sebagai golden year lewat pendidikan yang digagasnya saat ini. Walau
realitanya pendidikan dan segala problematikannya tak kunjung usai namun tak
ada salahnya kita sebagai anak bangsa ikut mengamini serta mendukung.
Esensi Nikmat Tuhan
Ternyata esensi nikmat tak hanya sekedar bentuk, tapi lebih kepada rasa.
Saat
acara Harlah Al Mahrusiah yang ke sepuluh kebetulan saya ikut menghadirinya.
Meskipun dalam keadaan perut yang sudah meminta jatah (lapar). Maklum sejak pagi
baru sekali kemasukan Nasi dan biasanya sebelum jam segituan (9 malam) perutku
sudah terisi yang kedua kalinya. Tapi ya bukan berarti seperti anak kecil yang
hanya telat makan sebentar saja harus mengeluh atau meninggalkan tempat acara
begitu saja. Memang sudah menjadi komitment awal kedatanganku yang sebenarnya
sudah telat, “harus mendatangi acara itu meski sedang lapar.”
Belajar dari Penambal Ban
Pikiranku
beberapa hari ini penuh dengan kekesalan dan entah apa saja. Kekesalan pada
diri sendiri. Merasa tertegur, merasa bersalah, dan perasaan kalut semacamnya.
Penyebabnya
bisa dibilang sepele. Entah apa mulanya dan apa yang sebenarnya lagi
dibahas–aku lupa-. Waktu mengajar di kelas Ustadku mengatakan, “Nahwu koyok
kompo, fikeh ban jero, tasawuf ban jobone. Dadi nek cekelani gur Nahwu wae, yo wes
podho wae nek nyang endi-endi gowoni kompo tok. Ban-e renek.
Selasa, 31 Januari 2012
Ternyata Aku Tak Ridlo
(Rumah Tua Eyangku II)
Baru saja kulangkahkan kembali kakiku
menapaki bancik-bancik ini. Bancik yang selalu setia menemani dan menjadi
pijakan santri-santri kala mereka berangkat sekolah atau mengaji. Tapi pikiran
semrawut itu telah kembali memenuhi jaringan otakku. Bak virus ganas yang
mengobrak-abrik sistem komputer yang tak di-DeepFreeze. Mengurai benang kusut
dengan cara membuangnya bukanlah tindakan bijak sama sekali. Segala
permasalahan meskinya aku hadapi, bukan aku hindari. “Mana kekuatan bancik yang
kamu jadikan sebagai pijakanmu? Atau mungkin mata hatimu telah buta, sehingga
tak tahu mana yang bancik dan mana yang ternyata kayu rapuh?” pikiranku kacau.
Aku kadang malu dengan diriku sendiri,
apalagi pada orang yang tanpa mereka sadari telah aku bujuk untuk membagi
kisahnya dengan sok bijak dalam menghadapi segala masalah. Dan meski aku suka
mendengarkan teman-temanku curhat, nyatanya aku sendiri tak pernah berbagi
dengan mereka. Hanya lewat tulisan ini aku berkisah. Hanya lewat tulisan ini
aku berkeluh kesah. Karena aku yakin kau tak mengenalku. Aku yakin tulisan ini
tak akan menimbulkan simpatimu untuk peduli kepadaku. Karena kau tak
mengenalku. Bahkan kau bukan orang yang hidup sezaman denganku. Apa yang sebenarnya
terjadi padaku? Apa gunanya aku harus pulang, jika setalah kembali pun aku tak
mendapat jalan keluarnya?
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Suatu hari ada seorang teman bertanya , "Untuk apa kita hidup?" Kebetulan bukan saya yang ditanya. Karena hanya ada ber...
-
Liburan tahun kemarin , seorang teman curhat kepada saya. Entah, karena menganggap saya memang dapat memberi pencerahan atau sekedar...
-
Ternyata esensi nikmat tak hanya sekedar bentuk, tapi lebih kepada rasa. Saat acara Harlah Al M...
-
Tak tahu harus kumulai dari mana aku ceritakan kisah piluku. Sebelum akhirnya aku putuskan untuk me...
-
Halo Sobat blogger. Lama nggak ngeposting (karena emang nggak nulis) buatku rindu. Kangen ngeblog ini saya rasa ada hubungannya dengan m...
-
(Kuharap tulisan ini tak ditertawakan, tapi dibaca) Sebagai calon kepala keluarga, saya ingin menyiapkan perundang-undangan yang terla...
-
Pikiranku beberapa hari ini penuh dengan kekesalan dan entah apa saja. Kekesalan pada diri sendiri. Merasa tertegur, merasa bersalah, d...
